Recollection of the Largest Papuan Ghost Orchid, Taeniophyllum maximum J.J.Sm, after 107 years from last discovery

Pada awal tahun 2020, Balai Besar KSDA Papua Barat bersama dengan kader konservasi dan mahasiswi Unversitas Cenderawasih melakukan inventarisasi anggrek di sekitar TWA Klamono. Kegiatan tersebut mendapatkan tiga jenis anggrek dari genus Taeniophyllum. Satu tahun kemudian, salah satu koleksi hidup Taeniophyllum (No:Reza 335) tersebut berbunga. Awalnya spesies tersebut diduga sebagai jenis baru, namun harus dilakukan pengecekan spesimen terdekatnya secara langsung, yaitu Taeniophyllum maximum yang ada di Herbarium Bogoriense (BO). Kemudian dilakukan proses identifikasi secara seksama dengan bantuan Peneliti Senior Anggrek dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, yaitu Ibu Lina Juswara. Setelah dilakukan pengecekan koleksi spesimen Van Romer 225 dan deskripsi protolog, diputuskan bahwa jenis tersebut adalah jenis yang sama, yaitu Taeniophyllum maximum J.J.Sm.

Taeniophyllum maximum merupakan salah satu jenis anggrek hantu terbesar yang ada di Papua. Anggrek ini memiliki panjang akar sampai dengan 75 cm dan lebar 0.6 cm dengan diameter bunga kurang lebih 2 cm. Pada beberapa individu tercatat ukuran lebar akar T. maximum mencapai 5 cm. Hal tersebut seringkali dianggap sebagai organ daun, yang pada kenyataannya anggrek ini tidak memiliki daun sejati atau leafless orchid.

Anggrek ini pertama kali dideskripsikan oleh Johannes Jacobus Smith pada tahun 1910. Meskipun J.J. Smith mendeskripsikan bunga anggrek ini dengan ukuran 2 cm, namun spesimen dari Kabupaten Sorong memiliki ukuran diameter bunga sekitar 1.6 cm. Ukuran tersebut masih tergolong besar jika dibandingkan dengan kerabat genus Taeniophyllum lainnya yang memiliki bunga dengan ukuran sekitar 0.5 – 1 cm.

Informasi terkait jenis anggrek T. maximum sangat minim, yakni hanya berasal dari tulisan protolog atau publikasi dari sang penemu. Hal tersebut dikarenakan jenis ini hanya ditemukan satu kali dan beberapa publikasi pada tahun 1910an. Sang penemu mempublikasikan deskripsi jenis Taeniophyllum maximum pada jurnal “Bulletin de Département de l’Agriculture aux Indes Néerlandaises”. Khususnya informasi foto belum pernah didokumentasikan sebelumnya. Oleh karena itu, penemuan anggrek ini menjadi dokumentasi lengkap pertama kali sekaligus menjadi catatan baru daerah penyebaran di Kabupaten Sorong, Papua Barat.

Gambar 1. Taeniophyllum maximum J.J.Sm.

Anggrek ini dicirikan dengan bunga yang berdaging; Dorsal sepal ovatus, tepi rata, ujung tumpul, cekung, 7 x 4.5 mm, berwarna oranye kekuningan; Sepal elips menyempit, tepi rata, ujung tumpul, cekung yang sangat dalam, berukuran 8 x 5 mm, berwarna oranye kekuningan; Petal elips, tepi rata, ujung tumpul, cekung, berukuran 6 x 3.5 mm, berwarna oranye kekuningan. Labelum memiliki spur; spur mengarah ke bawah, membuat sudut 90 derajat dengan labelum, berbentuk seperti tongkat pukul, berukuran 6.15 x 1.3 mm, berwarna oranye kekuningan;  labelum seperti buah pir (objek 2 dimensi), berdaging tebal dengan panjang 6.5 mm; Hipochile berbentuk bulat telur terbalik, berukuran 2.5 x 3.5 mm, pangkal bercuping dengan kalus seperti perahu, permukaan terdapat bintil-bintil kecil, berwarna oranye kekuningan dengan spot warna ungu; Epichile berbentuk bulat telur terbalik yang melebar, berukuran 4 x 5.5 mm (6 mm ketika diratakan), epichile terpisah dengan hypochile dengan sebuah cekungan dalam, permukaan terdapat bintil-bintil yang sangat kecil, berwarna kuning sampai putih.

 

Penulis: Reza Saputra / Pengendali Ekosistem Hutan

Dipublikasi pada tanggal 26 Juli 2021

References:

de Vogel, E.F, J.J. Vermeulen & A. Schuiteman. 2021. Taeniophyllum maximum. Available from http://www.orchidsnewguinea.com/orchid-information/species/speciescode/994

Lorentz, H.A. 1912. The Flora of New Guinea. The Gardeners’ chronicle :a weekly illustrated journal of horticulture and allied subjects. Ser 3 v.51: 275.